Selasa, 20 Desember 2011

TELAH TERBIT BUKU 'MENULIS LAGU DARI HATI' KARYA WIDYASWARA

Puji syukur penulis panjatkan  kepada Allah SWT  karena  atas karuniaNya, penulis bisa mewujudkan apa yang selama ini dicita-citakannya. Melalui buku "Menulis Lagu dari Hati" inilah  sangat  diharapkan mampu  mendukung dan membantu proses penciptaan lagu-lagu bagi para pemula di negeri ini.
    Buku "Menulis Lagu dari Hati" ini  disusun berdasar atas harapan penulis yaitu  dapat  memberi  sumbangan  pengetahuan  dan keterampilan  tentang  cara  menciptakan  lagu yang memiliki penjiwaan sesuai dengan hati penciptanya. Buku ini sangat menarik bagi para pemula, yang ingin menciptakan lagu-lagu berbobot. Tidak hanya teori dijelaskan dalam buku ini, tetapi juga praktek musik yang membawa kita semua bisa mengem-bangkan pengetahuan sekaligus keterampilan dalam penciptaan lagu.  Dengan begitu, isi buku ini  cukup mudah dipahami dan kegiatan praktek-prakteknya tidak sulit dilakukan oleh siapapun.
    Akhirnya,  penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orangtuaku H. Tirto Samudro dan Hj. Kastini; Tigita istriku ; ananda Rr. Nakhlah Retno Wijaya ; R. Rahmad Ardan Wijaya ; Sri Mariyati, SE; H.Ach.Sudarmaji, S.pd.I, selaku kepala sekolah SMP Dhaniswara beserta rekan-rekan guru ; Aris Susanto ; sobatku Peni Utami, SE ; Nining dari Dian Rakyat ; Anas ;  Lukas H. ; Fenny Rahma Suyadi ; Firzyah (Abiyasa.com) dan semua  pihak  yang mendukung penerbitan buku ini. Penulis menyadari buku ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu dengan tangan terbuka,  penulis akan menerima setiap saran dan kritik membangun dari  para  pembaca.  Semoga  buku  ini  bermanfaat bagi para pembaca.

Catatan :
Buku ini sering ditolak oleh penerbit dengan alasan penulis tidak dikenal namun penulis memutuskan untuk menerbitkan secara online sehingga buku ini bermanfaat bagi para musisi atau calon pencipta lagu.

Ayo berkarya dengan lagumu!

BACA BUKU MENULIS LAGU DARI HATI 

Senin, 12 September 2011

MASJID KEMAYORAN

Masjid ini terletak di  Jl. Indrapura dan hingga kini masih ada dan berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam. Menurut sejarah, masjid tersebut merupakan hadiah dari Gubernur Hindia Belanda untuk pemeluk agama Islam di Surabaya. Hal itu tertulis di bagian atap (yang kemudian juga ditulis lagi dalam prasasti) dengan menggunakan tulisan Jawa. Kala itu Bupati Negeri Soerabaia adalah Tumenggung  Kromojoyodirono (1772-1776).
Masjid Kemayoran pun berkembang. Kini di komplek itu juga terdapat sekolah Ta`miriyah yang didirikan KH. Abdul Manab Murtadho sebagai ketua Ta`mir Masjid Kemayoran Surabaya.
Terlepas dari sengketa yang kini terjadi--pengurus berebut hak atas Yayasan Ta’miriyah-- lembaga pendidikan formal maju pesat dengan jenjang pendidikan mulai Taman Kanak-Kanak (TKI), Sekolah Dasar (SD) Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Ta`miriyah. Selain itu, juga mengelola pendidikan non-formal yang telah berjalan dengan baik, seperti TPA, Jam`iyah Tahsin Liqiro`atil Qur`an dan lembaga pendidikan Bahasa Arab (LPBA)

SUNGAI KALIMAS DI PLAMPITAN

Panorama Sungai Kalimas sepanjang Jalan Plampitan (kini Jl Ahmad Jais). Plampitan adalah kampung di kota Surabaya. Kata pelampitan berarti perajin lampit (tiar rotan). Dahulu kampung ini punya industri rumah tangga pelampitan. Jalan Plampitan sebelah kanan melewati Jalan Makam Peneleh dan Jembatan Peneleh.
Kalimas dilintasi perahu gaya gondola Venesia. Di latar belakang terlihat gedung ANIEM (kini PLN) yang dibangun pada tahun 1930. Di sebelah kanan dari kantor ANIEM terlihat pom bensin BMP yang terletak di ujung utara Jl Gemblongan. Di belakang itu terlihat kompleks pertokoan/perkantoran dengan 4 menara putih yang dibangun pada tahun 1920. Di sebelah kanan dari kompleks tersebut terlihat gedung putih bergaya Art Deco yang simetris yaitu gedung Singer yang terletak di Alun-alun Contong.

GEDUNG CERUTU

Gedung di jalan Rajawali No 1-7 (di foto tampak di ujung jalan) ini disebut gedung cerutu. Nama tersebut diambil karena salah satu sudut bangunannya yang menjulang tinggi tersebut pada atapnya dibangun menyerupai bentuk cerutu (seperti kuba masjid tapi lebih lonjong).
Foto ini diambil pada th. 1925 an, kala itu fungsi dari gedung ini dulunya adalah kantor dan sekaligus digunakan untuk gudang. Gedung tersebut dibangun th. 1916 oleh : N.V.Maatschappij Tot Explotatie Van Het Technisch Bureau Gebroeders Knaud. Gedung ini kini terletak tepat di sebelah Hotel Ibis atau seberang Jembatan Merah Plaza (JMP)

Selasa, 05 Juli 2011

KAMPUNG KREMBANGAN UTARA

Salah satu Kampung di Surabaya yang berbatasan langsung dengan tepi Kalimas adalah Krembangan Utara, kampung lama ini juga menyimpan banyak bangunan bersejarah.
Bahkan salah satu kampung yang ada di wilayah ini yakni Kampung Kebalen pernah mendapat penghargaan dari The Aga Khan Award for Architecture Pada Tahun 1989, sebuah penghargaan untuk kampung dengan bangunan bersejarah dan keguyuban warganya.
Piagam penghargaan berkelas internasional itu sampai sekarang masih terpanjang di kantor kelurahan setempat.
Suudi, salah satu tokoh warga setempat menjelaskan, saat itu penghargaan dari Negara Kairo tersebut diserahkan melalui Wali Kota Surabaya yang dijabat Purnomo Kasidi. “Wali kotanya saat itu Pak Purnomo Kasidi yang datang ke Kampung Kebalen dan memberikan piagam Aga Khan,” kata Suudi bangga. Ia pun masih menyimpan foto-foto saat Wali Kota Surabaya datang ke Kebalen dan menyerahkan sendiri penghargaan tersebut kepada perwakilan warga.
Kampung Krembangan sendiri terletak di sepanjang Sungai Kalimas di bagian Barat. Karena saat itu merupakan kawasan perdagangan yang dikunjungi banyak pedagang dari penjuru dunia, kawasan yang menjadi salah satu tempat strategis perdagangan ini pun menjadi ramai. Bahkan sebagian dari pedagang juga membangun rumah-rumah di kawasan ini. Untuk mengenang wilayah yang sangat dekat dengan tepian Kalimas yang juga banyak disandari kapal pedagang, maka sejumlah nama jalan di Kampung Krembangan Utara ini juga menggunakan nama-nama yang masih ada kaitannya dengan istilah pelayaran.
Misalnya saja Jalan Kelasi, Jalan Layar, Jalan Nelayan, Jalan Nakhoda, Jalan Muteran dan lainnya.
“Istilah pelayaran dan kelautan ini digunakan sebagai ikon di kampung Krembangan Utara ini,” terang Suudi.
Dalam perkembangannya Kampung yang berbatasan dengan Kampung Perak di bagian Utara dan Barat, di bagian timur berbatasan dengan Kalimas, bagian selatan berbatasan dengan Pesapen Kali.
Karena merupakan Kampung Lama dan dulu merupakan salah satu kawasan medan pertempuran, warga di Krembangan Utara kerap menemukan peluru bahkan meriam. Terakhir kali kata Suudi warga di Jalan Nelayan ini menemukan sejumlah meriam kuno. Hingga kini meriam kuno itu masih bisa dilihat, karena sengaja diabadikan t semacam monumen di Polrestabes Surabaya dan di depan Polsek Bubutan (dulu Polres Surabaya Utara). Kemungkinan besar kata Suudi masih banyak benda peninggalan perang yang tersimpan di wilayah Kampung Krembangan Utara ini. Ikon lainnya yang masih banyak terdapat di Kampung Krembangan Utara ini adalah bangunan gardu PLN yang kini banyak dijadikan cagar budaya.
Menurut Agus Supintoadi, Lurah Krembangan, bangunan gardu PLN kuno itu banyak terdapat di wilayahnya. Hanya saja perawatan bangunan yang termasuk cagar budaya ini kurang serius.
“Sayang kalau dibiarkan tidak terawat,” ujarnya. Sejumlah gardu PLN ini banyak dijadikan mangkal oleh tukang tambal ban dan PKL. Oleh petugas kelurahan mereka yang membuka usaha di sekitar gardu ini pun disuruh pindah.
Bangunan lainnya  berada di kawasan Krembangan Utara dan menjadi kebanggaan warga adalah bangunan pabrik rokok milik Sampoerna.
Bangunan itu sampai sekarang masih terawat dan dijadikan pabrik serta ruang pameran House Of Sampoerna. Di tempat ini kata Agus juga disediakan angkutan secara gratis untuk melihat dari dekat bangunan bersejarah di kawasan Krembangan Utara khususnya dan di Surabaya umumnya.

 
Design by Widyaswara | Address : Jl. Kalidami viii/25 Surabaya - Telp.(031) 5926865, 081322430013 | Blogger Templates